Tata Laksana dan Pengobatan Penyakit Malaria (1)

Bagian 1

Pedoman Tata Laksana Malaria merupakan acuan bagi tenaga medis atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai kewenangan dalam rangka menekan angka kesakitan dan angka kematian akibat malaria sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

  1. Diagnosa Penyakit Malaria

Sebelum melakukan tindak lanjut terhadap penderita, pemahaman terhadap diagnosa penyakit malaria itu sendiri harus ditekankan.  Diagnosa penyakit malaria dilakukan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang. 

Terdapat beberapa standar diagnosis penyakit malaria, yaitu dilakukan pada individu yang berada di daerah endemis malaria lebih dari 48 jam dengan gejala klinis malaria, individu yang tinggal di daerah non-endemis malaria tetapi memiliki riwayat bepergian ke daerah endemis malaria.  Maka, individu tersebut harus dilakukan pemeriksaan darah melalui Rapid Test Diagnostic (RDT) atau tes laboratorium, yakni secara mikroskopis.

Pada gejala klinis, ada 2 (dua) tahap pemeriksaan yang harus dilewati yaitu tahap anamnesa dan tahap pemeriksaan fisik.   Gejala klinis penyakit malaria sangat khas dengan serangan demam yang intermiten (berhenti sesaat), anemia sekunder dan pembengkakan pada organ hati (splenomegaly).  Selain itu, gejala klinis pun dipengaruhi oleh jenis Plasmodium yang menginfeksi.  

Penderita penyakit malaria harus memberikan informasi secara lengkap kepada petugas kesehatan/kader malaria berkaitan dengan aktivitas bepergian dan bermalam di daerah endemis malaria, terutama dalam satu bulan terakhir, serta pengobatan apa saja yang pernah dilakukan.

Terdapat 3 (tiga) stadium berurutan munculnya gejala klinis penyakit malaria, yaitu : (1) Menggigil, kurang lebih selama  15 – 60 menit.  (2) Demam, biasanya sekitar 37,5 – 40° C; pada penderita hiperparasitemia (hitung parasit >5%), suhu bisa meningkat sampai > 40°C.  Proses demam berlangsung selama 2-6 jam. (3) Berkeringat, demam terjadi akibat gangguan metabolisme yang menjadikan produksi keringat bertambah. Dalam keadaan yang berat, keringat yang keluar bisa sampai membasahi sekujur tubuh. Proses ini berlangsung selama 2-4 jam.  Setelah berkeringat, biasanya penderita merasa sehat kembali.

Pada penderita yang terinfeksi Plasmodium falciparum, demam dapat terjadi setiap hari, sedangkan P. vivax atau ovale demamnya berselang satu hari, sedangkan demam P. Malariae berselang dua hari.

Pada pemeriksaan fisik penderita, selain demam 37,5-40 OC, juga mengalami anemia, pembesaran limpa dan pembesaran hati.  Bila terjadi serangan Malaria berat dapat terjadi syok yang ditandai dengan menurunnya tekanan darah, nadi berjalan cepat dan lemah, serta frekuensi napas pun meningkat.  Setelah melalui tahap diagnose, selanjutnya adalah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan penunjang.

2 thoughts on “Tata Laksana dan Pengobatan Penyakit Malaria (1)

  1. Nika Wati says:

    Saya mau bertanya, kenapa rapid test malaria (RDT) tidak akurat dibandingkan dengan mikroskop, dokter di perusahaan saya mengandalkan RDT, saya sudah gwg gejala malaria, dan karena hasil RDT negatif jd saya hanya diberi antibiotik, saya ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut ditengah covid begini jd takut ke rumah sakit. Mhn pencerahan. Trims

    Reply
    1. Yulia Indah Permata Sari says:

      berdasarkan beberapa referensi yang saya ketahui,
      Pemeriksaan miksroskop memang lebih akurat daripada RDT mba, karena semua jenis plasmodium yang menginfeksi, bisa diketahui termasuk kepadatan parasit di dalam darahnya. Beda halnya dengan RDT, yang sejauh ini, kebanyakan hanya bisa membaca plasmodium tertentu (nanti akan kita bahas di tulisan selanjutnya), jadi perlu tindak lanjut lagi setelah ada pemeriksaan RDT. Misalnya nih, dari hasil tes RDT ternyata hasilnya positif, disarankan langsung cek lab. untuk lebih memastikan lagi. Dan kalau memang positif, pengobatannya jadi lebih tepat karena kan pemberian dosis ACT akan berbeda sesuai dengan jenis Plasmodium yang menginfeksi.

      Kalau menurut Saya, selama hasil RDT negatif dan memang lg musim pandemi covid begini, lebih baik mba beristirahat dulu dengan minum obat yang disarankan sama tenaga medis yang memeriksa. Kalau boleh tau, apa mba pernah ada riwayat sakit malaria sebelumnya? atau pernah ke daerah endemis malaria?

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *