Penemuan Vaksin Malaria Pertama, RTS,S.

Penyakit Malaria masih menjadi perhatian seluruh dunia, karena tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan melainkan sektor ekonomi.  Hal ini mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada suatu negara.

Vaksin

WHO memperkirakan pada tahun 2018 sebanyak 228 juta kasus malaria terjadi di seluruh dunia (95% (CI) : 206 – 258 juta), dibandingkan dengan kasus pada tahun 2010 sebanyak 251 juta kasus (95% (CI) : 231 – 278 juta) dan 231 juta kasus malaria pada tahun 2017 (95% (CI) : 211 – 259 juta).

Sebagian besar kasus malaria terjadi di negara bagian Afrika (213 juta atau 93%), diikuti oleh Asia Tenggara (3,4% dari kasus) dan wilayah Mediterania Timur (2,1% dari kasus) (World Malaria Report, 2019).

Setiap tahun, penyakit malaria merenggut nyawa lebih dari 400.000 jiwa.  Puluhan juta lebih diakibatkan oleh penyakit yang dapat dicegah dan diobati.  Anak-anak dibawah usia 5 (lima) tahun di Sub-Sahara Afrika merupakan populasi rentan, lebih dari 250.000 anak-anak meninggal karena penyakit setiap tahun.  Satu anak mati karena malaria setiap 2 menit (WHO, 2018).

Tingginya kasus malaria di Afrika menjadi sebuah pemicu ditemukannya Vaksin Malaria pertama di dunia, yaitu RTS,S/AS01 (RTS,S), yang sedang diujicobakan di 3 (tiga) negara Afrika (Ghana, Kenya, Malawi).

Vaksin Malaria ditujukan untuk menekan angka kematian akibat malaria pada anak-anak.  RTS,S berperan melawan Plasmodium falciparum, parasit malaria utama yang menyebabkan kematian di Afrika.  Pada uji klinis di 7 (tujuh) negara Afrika menunjukkan bahwa RTS,S berpotensi untuk menekan angka kematian akibat malaria.

Pada uji coba klinis tersebut, anak-anak menerima 4 dosis dari vaksin RTS,S, secara signifikan mengurangi angka kesakitan akibat malaria, termasuk tingkat keparahan, hingga yang mengancam kehidupan, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diberikan vaksin RTS,S.

Sumber :

  1. World Malaria Report 2019
  2. First Malaria Vaccine in Africa : A potential new tool for child health and improved malaria control