Tata Laksana dan Pengobatan Penyakit Malaria (2)

 Bagian 2

Setelah melalui tahap diagnosa gejala klinis yang muncul, selanjutnya adalah pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang.

  1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium terbagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu mikroskopis dan Rapid Diagnostic Test (RDT).  Pada pemeriksaan darah melalui mikroskopis dilakukan dengan memisahkan antara preparat darah tebal dan darah tipis untuk menentukan ada atau tidaknya parasit Plasmodium dalam darah.  Kepadatan parasit dapat dilakukan dengan semi-kuantitatif dan kuantitatif.

Metode semi-kuantitatif menghitung parasit dalam LPB (Lapangan Pandang Besar) dengan rincian sebagai berikut :

(-)        : SDr Negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB)
(+)        : SDr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)
(++)      : SDr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB)
(+++)    : SDr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB)
(++++)  : SDr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1 LPB)

Penghitungan kepadatan parasit secara kuantitatif pada SDr tebal adalah menghitung jumlah parasit per 200 leukosit.  Pada SDr tipis, penghitungan jumlah parasit per 1000 (Widoyono, 2011).

Selanjutnya adalah Rapid Test Diagnostic (RDT), tes ini sangatlah diperlukan dalam menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria.  Metode ini dilakukan dengan mendeteksi antigen Malaria dalam darah dengan cara imunokromatografi. Kelebihan tes ini adalah hasil pemeriksaaan dapat diperoleh dengan cepat, tetapi lemah dalam hal spesivitas dan sensitivitasnya.   Deteksi antigen digunakan apabila tidak tersedia mikroskop untuk memeriksa preparat darah tepi atau pada daerah yang sulit dijangkau dan keadaan darurat yang perlu diagnosis segera.

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita, meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit dan trombosit.

Diagnosa klinis, dilakukan dengan memperhatikan kemunculan gejala-gejala penyakit Malaria, yaitu demam, menggigil, berkeringat, sakit kepala, sakit ulu hati bahkan anemia.  Sedangkan, diagnosis mikroskopis dilakukan dengan menemukan parasit dalam darah yang diperiksa dengan mikroskop di laboratorium.  Peranan diagnosis laboratorium terutama untuk menunjang penanganan klinis. Pemeriksaan secara mikroskopis menentukan ada atau tidaknya parasit dalam darah sehingga dapat dilakukan tindakan lanjutan.

Sebagai diagnosa banding penyakit malaria ini adalah Demam Tifoid, Demam Dengue, ISPA, demam tinggi, atau infeksi virus akut lainnya (Depkes RI, 2003).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *